Menteri Agama Nasaruddin Umar
JAKARTA – Menteri Agama Nasaruddin Umar menemui Presiden Republik Indonesia untuk membahas potensi beririsan antara perayaan Hari Raya Nyepi dan Idul Fitri 1447 Hijriah yang diprediksi terjadi pada Maret 2026 mendatang.
Pertemuan tersebut menyoroti kemungkinan malam takbiran bertepatan dengan Hari Raya Nyepi yang jatuh pada 19 Maret 2026. Kondisi ini dinilai memerlukan koordinasi dan kesepahaman lintas pemerintah daerah serta tokoh agama agar kedua momentum sakral itu tetap dapat berjalan dengan khidmat.
“Saya melaporkan persiapan lebaran yang akan datang, karena beberapa tempat tanggal 19 itu (Maret 2026, red) kan hari nyepi. Hari nyepi kita tahu tidak boleh ada suara berisik, tidak boleh ada suara kendaraan, dan sebagainya. Padahal malam itu ada teman-teman kita juga ada takbir,” ujarnya.
Sebagaimana diketahui, Nyepi merupakan hari suci umat Hindu yang dijalankan dengan Catur Brata Penyepian, yakni tanpa api, tanpa bekerja, tanpa bepergian, dan tanpa hiburan. Di Bali, suasana hening total bahkan mencakup pembatasan aktivitas kendaraan dan penggunaan pengeras suara.
Di sisi lain, malam takbiran menjelang Idul Fitri identik dengan lantunan takbir yang biasanya dikumandangkan di masjid dan musholla, kerap menggunakan pengeras suara dan diiringi pawai kendaraan di sejumlah daerah.
Mengantisipasi potensi gesekan, Kementerian Agama telah berkoordinasi dengan pemerintah daerah serta tokoh-tokoh masyarakat, khususnya di Bali. Hasilnya, dicapai kesepakatan bahwa takbiran tetap dapat dilaksanakan dengan sejumlah penyesuaian.
“Kami sudah melaporkan kepada bapak Presiden, sudah ada kesepakatan dengan pemerintah setempat dengan toko-tokoh masyarakat di Bali. Takbir itu tidak bertentangan dengan nyepi, cuma syaratnya ya nyepi berjalan. Tapi, takbirnya juga berjalan, cuma tidak pakai sound system dan dibatasi waktunya dari jam 6 sampai 9 malam,” jelasnya.
Skema ini diharapkan menjadi jalan tengah yang mengedepankan toleransi dan saling menghormati antarumat beragama. Pemerintah menegaskan bahwa semangat kebersamaan dan harmoni menjadi prioritas utama, terutama dalam momentum hari besar keagamaan yang memiliki makna mendalam bagi masing-masing pemeluknya.