Prabowo kumpulkan mantan Presiden di Istana membahas perang timur tengah
JAKARTA – Ketegangan geopolitik global kian memanas. Di tengah eskalasi konflik di Timur Tengah, Prabowo Subianto menggelar pertemuan tertutup bersama sejumlah tokoh nasional di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (03/03/2026) malam. Agenda tersebut bukan sekadar silaturahmi, melainkan forum strategis membahas dampak perang terhadap Indonesia.
Hadir dalam pertemuan itu para pemimpin lintas era: Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono, Presiden ke-7 RI Joko Widodo, Wakil Presiden ke-13 RI Ma’ruf Amin, Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI Jusuf Kalla, serta Wakil Presiden ke-11 RI Boediono. Turut hadir pula mantan Menteri Luar Negeri Hassan Wirajuda, pimpinan partai koalisi, serta sejumlah menteri Kabinet Merah Putih.
Mengutip keterangan resmi setneg.go.id, Hassan Wirajuda mengungkapkan bahwa Presiden Prabowo memaparkan perkembangan terkini situasi global, termasuk eskalasi serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.
“Presiden memberikan update, briefing tentang berbagai perkembangan terbaru yang terjadi di dunia, khususnya berkaitan dengan yang selama ini sudah menjadi perhatian banyak di antara kita yaitu mengenai yang paling mutakhir tentunya perkembangan perang atau serangan Amerika dan Israel terhadap Iran. Didiskusikan implikasinya apa terhadap kita, terhadap dunia,” ujar Hassan dalam keterangannya kepada awak media.
Diskusi berlangsung intens. Tidak hanya membedah aspek keamanan dan perdamaian dunia, forum tersebut juga mengupas potensi dampak ekonomi yang bisa menghantam berbagai negara, termasuk Indonesia.
Isu rantai pasok global, lonjakan harga minyak dan gas, hingga proyeksi lamanya konflik menjadi perhatian utama. Pemerintah, kata Hassan, tengah menghitung berbagai kemungkinan, termasuk skenario terburuk jika perang berlangsung berkepanjangan.
Dalam pemaparannya, Presiden Prabowo juga menyoroti melemahnya efektivitas tatanan global dalam merespons konflik internasional. Dunia dinilai semakin terfragmentasi, sementara mekanisme kolektif internasional belum mampu meredam eskalasi secara optimal.
Situasi tersebut, menurut Hassan, membuat Indonesia harus bersikap cermat dan adaptif. Perang di Timur Tengah bukan sekadar konflik regional, melainkan memiliki resonansi global yang bisa memicu gejolak ekonomi dan politik di berbagai belahan dunia.
Terkait posisi Indonesia, Hassan menegaskan bahwa konflik tersebut dipandang sebagai tindakan sepihak yang tidak memiliki mandat internasional. Pemerintah pun terus mengkaji langkah diplomatik yang paling tepat, termasuk dalam konteks pembahasan Board of Peace (BoP).
“Kita bahas, tapi juga dalam konteks perkembangan mutakhir apakah dengan perang yang berkecamuk di Iran ini akan melemahkan, kemungkinan melemahkan posisi dan mandat BoP kita akan berhitung lagi dari sisi itu,” katanya.
Presiden Prabowo, lanjut Hassan, sengaja membuka ruang dialog dengan para tokoh bangsa guna menyerap berbagai pandangan strategis. Ia disebut sangat terbuka terhadap masukan dan pemikiran dari para peserta yang hadir.