Koordinator Wilayah Muaro Jambi, Prastika akui BGN lalai atas keracunan MBG di Muaro Jambi
JAMBI – Badan Gizi Nasional (BGN) Jambi akhirnya angkat bicara terkait kasus keracunan ratusan siswa di Kabupaten Muaro Jambi yang diduga akibat menu Makanan Bergizi Gratis (MBG) dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang dikelola Yayasan Aziz Zulkia Amanah.
Dalam keterangannya, BGN mengakui adanya kelalaian bersama dalam pengelolaan fasilitas, terutama pada Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) yang tidak memenuhi standar operasional prosedur (SOP).
Direktur Pemantauan dan Pengawasan (Dirtawas) Wilayah I Sumatera, Harjito, melalui Koordinator Wilayah Muaro Jambi, Prastika, menyebut IPAL di SPPG tersebut memang telah dilaporkan bermasalah, namun perbaikannya ditunda.
“IPAL belum memenuhi standar SOP yang ditetapkan, infrastruktur, SOP juga belum diterapkan dengan baik oleh SPPG tersebut. Jadi IPAL itu kelalaian bersama, karena SPPG sudah memberikan laporan bahwa IPAL tersebut bermasalah. Cuma masih ditunda perbaikannya,” kata Prastika, Senin (23/2/2026) di Rumah Dinas Gubernur Jambi.
Lebih jauh, hasil uji laboratorium mengungkap fakta yang mengkhawatirkan. Bakteri Escherichia coli (E. coli) ditemukan tidak hanya pada air, tetapi juga pada makanan yang disajikan pada hari kejadian.
“Ditemukan dua bakteri di airnya dan di setiap makanan pada hari itu,” jelasnya.
Temuan ini memperkuat dugaan bahwa persoalan sanitasi dan pengawasan mutu pangan menjadi titik lemah dalam pelaksanaan program MBG di daerah tersebut.
Sejak 30 Januari 2026, operasional SPPG yang dikelola Yayasan Aziz Zulkia Amanah telah dihentikan sementara. Langkah ini diambil sebagai bentuk evaluasi menyeluruh sekaligus tindak lanjut atas rekomendasi dari Dinas Kesehatan Kabupaten Muaro Jambi.
Rekomendasi tersebut mencakup perbaikan fasilitas, pembenahan infrastruktur, serta penerapan SOP yang lebih ketat sebelum layanan kembali dioperasikan.
Kasus ini menjadi alarm keras bagi pelaksanaan program Makanan Bergizi Gratis yang sejatinya bertujuan meningkatkan asupan gizi anak-anak sekolah.
Pengakuan kelalaian bersama dari BGN menegaskan bahwa persoalan ini bukan semata kesalahan teknis di lapangan, melainkan juga lemahnya sistem kontrol dan tindak lanjut terhadap laporan masalah yang sudah diketahui sebelumnya.
Sebab ketika program gizi justru berujung pada keracunan, yang dipertaruhkan bukan hanya reputasi lembaga, tetapi juga keselamatan anak-anak sebagai generasi penerus bangsa.