Juru Bicara Satgas Karhutla Pemprov Jambi, Johansyah
JAMBI – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Jambi masih menjadi perhatian serius pemerintah. Hingga 25 Oktober 2026, total luas lahan yang terbakar sejak awal tahun tercatat mencapai 4.954,90 hektare, sementara jumlah titik panas yang terpantau hingga 24 Oktober mencapai 18.389 titik.
Juru Bicara Satgas Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) Provinsi Jambi, Johansyah, mengatakan tim gabungan masih melakukan pemadaman, pendinginan, serta pemantauan kondisi cuaca dan kualitas udara di sejumlah wilayah terdampak.
Di lapangan, upaya pemadaman telah dilakukan pada lahan seluas 12,5 hektare, terdiri atas 1 hektare di Kabupaten Muaro Jambi dan 11,5 hektare di Kabupaten Tanjung Jabung Timur. Sementara itu, proses pendinginan telah menjangkau sekitar 7,2 hektare lahan yang tersebar di Kabupaten Muaro Jambi, Batang Hari, dan Tanjung Jabung Timur.
Satgas juga mencatat 17,4 hektare lahan telah dinyatakan selesai ditangani. Luasan tersebut meliputi Muaro Jambi 0,5 hektare, Tebo 6 hektare, Batang Hari 2,2 hektare, Sarolangun 6,7 hektare, serta Tanjung Jabung Barat 2 hektare.
Untuk mengantisipasi perkembangan kebakaran, Satgas Karhutla terus memantau kondisi cuaca melalui informasi satelit Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta sistem pemantauan SiPongi.
Selain penanganan di lapangan, aparat penegak hukum juga terus memproses perkara kebakaran hutan dan lahan di Provinsi Jambi. Hingga saat ini, tercatat 91 kasus karhutla diantaranya 71 kasus dalam tahap lidik, 20 kasus sidik, dan 18 orang ditetapkan sebagai tersangka.
Selain itu, Johansyah juga menyampaikan jumlah kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di Provinsi Jambi telah mencapai 7.234.
Di sisi pendanaan, Provinsi Jambi memperoleh dukungan anggaran dari pemerintah pusat sebesar Rp30 miliar untuk penanganan karhutla. Namun, realisasi anggaran tersebut masih tercatat sebesar Rp1,909 miliar atau sekitar 6,36 persen dari total bantuan.
“Provinsi Jambi mendapatkan bantuan penanganan karhutla dengan anggaran Rp30 miliar. Realisasinya sebanyak Rp1,909 miliar atau 6,36 persen,” jelas Johansyah.
Johansyah mengimbau masyarakat tidak membuka lahan dengan cara membakar, menghindari kebiasaan membuang puntung rokok sembarangan, serta segera melaporkan apabila menemukan titik api.
“Kami mengimbau agar masyarakat tidak membuka lahan dengan cara dibakar, tidak membuang puntung rokok sembarangan, dan tetap waspada terhadap potensi karhutla. Jika melihat titik api, segera laporkan ke posko karhutla terdekat,” pungkasnya.