Anggota DPRD Provinsi Jambi, Afuan Yuza Putra
JAMBI – Anggota DPRD Provinsi Jambi dari daerah pemilihan Kerinci–Sungai Penuh, Afuan Yuza Putra, memastikan ruas jalan Ranah Pemetik sepanjang 27 kilometer segera diperbaiki melalui APBD Provinsi Jambi tahun anggaran 2026.
Perbaikan ini tetap menjadi prioritas meski pemerintah daerah tengah menghadapi keterbatasan anggaran. Komitmen tersebut sejalan dengan janji politik Gubernur Jambi, Al Haris, untuk meningkatkan infrastruktur di wilayah yang selama ini tertinggal.
Afuan Yuza menegaskan, kondisi jalan Ranah Pemetik yang telah belasan tahun kurang mendapat perhatian menjadi alasan kuat untuk segera dilakukan penanganan.
“Belasan tahun tertinggal jalan Ranah Pemetik ini, sangat wajar seharusnya diperhatikan. Kami di DPRD Jambi memastikan jalan Renah Pemetik itu diperbaiki pada tahun ini,” katanya.
Afuan Yuza menjelaskan, fokus awal adalah memastikan akses dasar bagi masyarakat, khususnya para petani yang sangat bergantung pada jalur tersebut untuk aktivitas ekonomi sehari-hari.
“Sepanjang 27 kilometer itu yang penting fungsional dulu, agar mobilitas masyarakat dan hasil pertanian bisa lancar,” tambahnya.
Meski demikian, Afuan Yuza mengakui bahwa harapan masyarakat untuk pembangunan jalan dengan kualitas permanen seperti pengaspalan atau pengecoran belum sepenuhnya dapat direalisasikan dalam waktu dekat.
“Harapan kita tentu ingin diaspal atau dicor, tapi kondisi keuangan belum memungkinkan. Jadi kita prioritaskan fungsi dulu,” jelasnya.
Terkait skema pengerjaan, Afuan Yuza mengungkapkan bahwa Anggaran perbaikan ini menggunakan dana operasional UPTD Workshop dan peralatan atau Alkal milik dinas PU Provinsi Jambi.
Ia juga mengungkapkan bahwa alat berat akan segera di kirim ke Renah Pemetik di Bulan April ini.
Perbaikan jalan Ranah Pemetik diharapkan menjadi langkah awal dalam membuka keterisolasian wilayah serta mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat Kerinci dan Sungai Penuh, khususnya di sektor pertanian.
“Semoga sesuai rencana untuk segera direalisasikan” Tutupnya dengan nada optimis.