Ilustrasi H Achmad Sarwani bersama petani sawit
Oleh: Fajri Al Mughni
JAMBI – Hari ini, izinkan kami menyampaikan bukan sekadar kata-kata, tapi jerit perut rakyat Jambi yang makin lama makin diperas sampai tinggal tulang.
Dari 9 kabupaten dan 2 kota, dari 144 kecamatan, dari 169 kelurahan dan 1.399 desa, satu suara sedang pecah di langit Jambi:
“Suara kecewa, suara marah, suara rakyat yang dipermainkan oleh kerakusan”.
Sudah hampir sepekan, masyarakat menangis dalam diam. Petani sawit bangun subuh, pulang petang, badan hitam dibakar matahari, tangan kasar memegang egrek, tapi hasil keringat mereka dihargai seperti daun gugur di tepi parit.
Dinas Perkebunan Provinsi Jambi, menetapkan harga di kisaran Rp3.500 sampai Rp3.800. Tapi, entah setan mana yang sedang berpesta di meja-meja perusahaan, sawit rakyat dibeli cuma Rp2.500 sampai Rp2.800.
Bos, selisih seribu rupiah itu bukan angka kecil bagi orang petani dari dusun. Mereka mencari nasi untuk makan dan uang sekolah untuk anak-anak. Itu obat orang tua, itu dapur yang kini mulai dingin sebab periuk tak lagi berasap.
Bang Sarwan bertanya dengan hati yang panas tapi dingin:
Siapa yang sedang menari di atas tangisan petani? Siapa yang tersenyum ketika rakyat menggigit lapar? Dan siapa pula yang diam melihat ketidakadilan ini seolah cuma angin lalu?
Jangan sampai negeri yang tanahnya subur ini berubah jadi ladang kenyang bagi korporasi, tapi kuburan harapan bagi rakyat sendiri.
Jangan sampai sila kelima tinggal tulisan di dinding kantor, sementara keadilan di lapangan sudah lama dikubur bersama nurani.
Bang Sarwan kembali menekan, kami memohon, sekaligus mendesak, kepada Pemerintah Provinsi Jambi, kepada Gubernur, Kapolda, dan Danrem: turunlah melihat denyut luka rakyat. Tegakkan aturan.
Tindak perusahaan-perusahaan nakal yang menjadikan penderitaan masyarakat sebagai ladang keuntungan.
Sebab ini bukan sekadar urusan angka, ini urusan perut rakyat, urusan hidup mati keluarga petani di kampung-kampung.
Kepada kawan-kawan di DPRD, jangan cuma pandai mengetuk meja sidang sementara rakyat mengetuk pintu dapur yang kosong.
Buatlah regulasi, buatlah perda yang tegas terhadap ketetapan harga sawit Disbun. Berikan sanksi keras bagi perusahaan yang curang dan rakus. Jangan biarkan hukum hanya tajam ke bawah tapi tumpul ke atas seperti parang karat ngapak kulim.
Sepuluh jari kami sembahkan, kecil telapak tangan, nyiru kami tadahkan. Suara ini bukan suara kebencian, tapi suara rakyat yang sudah terlalu lama dipaksa sabar.
Karena kalau rakyat kecil terus diperas, jangan salahkan bila suatu hari tangisan berubah menjadi gelombang kemarahan.
Jambi bukan tanah untuk memperkaya segelintir orang sambil memiskinkan pemilik tanahnya sendiri. Maka, dengarlah suara ini.