Gubernur Jambi, Al Haris bersama Dinas Kesehatan Provinsi Jambi mengadiri Konferensi Nasional Kusta 2026
JAMBI – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jambi terus menunjukkan komitmennya dalam mewujudkan masyarakat yang sehat, inklusif, serta bebas dari stigma terhadap penyintas kusta.
Sejalan dengan target nasional eliminasi kusta, Pemprov Jambi mendorong penguatan kolaborasi lintas sektor, deteksi dini, serta edukasi kepada masyarakat guna memutus rantai penularan sekaligus menghapus diskriminasi yang masih dialami para penyintas.
Komitmen tersebut ditunjukkan melalui kehadiran langsung Gubernur Jambi, Al Haris, didampingi Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jambi, Dr, dr. Hj. Ike Silviana, MKM, Sp.KKLP, FISQua, beserta jajaran dalam Konferensi Nasional Kusta 2026 yang digelar di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta.
Pada kesempatan itu, Gubernur Al Haris turut menandatangani deklarasi komitmen sebagai bentuk dukungan nyata Pemerintah Provinsi Jambi dalam mempercepat upaya eliminasi kusta di Provinsi Jambi.
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jambi, dr. Hj. Ike Silviana, MKM, Sp.KKLP, FISQua, mengatakan, sesuai arahan Gubernur Al Haris, Dinas Kesehatan Provinsi Jambi akan mengakselerasi program eliminasi kusta melalui berbagai langkah strategis yang melibatkan seluruh pemangku kepentingan.
Salah satu langkah utama yang dilakukan adalah memperkuat koordinasi lintas sektor dan lintas program guna mendukung penemuan kasus secara aktif serta memastikan seluruh penderita mendapatkan pengobatan yang tepat.
“Koordinasi lintas sektoral dan lintas program untuk dukungan penemuan dan pengobatan kasus kusta di masyarakat,” ujarnya.
Ia menjelaskan, eliminasi kusta menjadi salah satu prioritas pembangunan kesehatan di Provinsi Jambi. Karena itu, Dinas Kesehatan akan terus meningkatkan kinerja program sekaligus mengoptimalkan dukungan anggaran agar seluruh kegiatan penanggulangan kusta dapat berjalan secara maksimal.
Selain fokus pada penemuan dan pengobatan kasus, Dinas Kesehatan Provinsi Jambi juga berkomitmen menciptakan lingkungan yang aman, inklusif, dan bebas diskriminasi bagi penyintas maupun masyarakat yang pernah mengalami kusta.
“Membantu menciptakan lingkungan yg kondusif dan aman sehingga tidak terjadi diskriminasi penderita kusta atau yg pernah mengalami kusta,” kata Ike Silviana.
Menurut Ike Silviana, stigma di tengah masyarakat masih menjadi tantangan dalam upaya eliminasi kusta. Oleh karena itu, edukasi akan terus digencarkan agar masyarakat memahami bahwa kusta dapat disembuhkan dan penderita tidak perlu dikucilkan
“Melakukan pembinaan, supervisi dan evaluasi program kusta secara berkala dan berkesinambungan,” pungkasnya.
